DENGAN SIAPA KITA BERTEMAN

Rosululloh shollallohu ’alaihi wa sallam bersabda:
الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلْ
“Seseorang itu tergantung agama teman karibnya, maka hendaklah setiap kalian melihat siapa yang hendak ia jadikan teman karib.” [HR. Ahmad, Abu Daud dan At-Tirmidzi dari Abu Hurairah rodhiyallohu’anhu, Al-Misykaah: 5019]
PERINGATAN ULAMA SALAF
➡ Al-Imam Al-‘Ashma’i rohimahulloh berkata,
لَمْ أَرَ بَيْتًا قَطُّ أَشْبَهَ بِالسُّنَّةِ مِنْ قَوْلِ عَدِيٍّ: عَنِ الْمَرْءِ لَا تَسْأَلْ وَأَبْصِرْ قَرِينَهُ … فَإِنَّ الْقَرِينَ بِالْمُقَارَنِ يَقْتَدِي
“Saya tidak pernah sama sekali melihat sebuah bait syair yang lebih sesuai dengan sunnah daripada ucapan ‘Adi (seorang penyair): Tentang seseorang janganlah engkau tanyakan, namun lihatlah teman bergaulnya, karena seorang teman akan mengikuti temannya.” [Al-Ibaanah Al-Kubro, no. 378]
➡ Al-Imam Al-A’masy rohimahulloh berkata,
كَانُوا لَا يَسْأَلُونَ عَنِ الرَّجُلِ , بَعْدَ ثَلَاثٍ: مَمْشَاهُ , وَمَدْخَلِهِ , وَأُلْفِهِ مِنَ النَّاسِ
“Dahulu generasi Salaf tidak lagi bertanya tentang seseorang setelah mengetahui tiga hal tentang dirinya: Teman berjalannya, teman bergaulnya dan teman dekatnya.” [Al-Ibaanah Al-Kubro, no. 419]
➡ Al-Imam Al-Auza’i rohimahulloh berkata,
مَنْ سَتَرَ عَنَّا بِدْعَتَهُ لَمْ تُخْفِ عَلَيْنَا أُلْفَتُهُ
“Siapa yang menyembunyikan bid’ahnya dari kami, maka tidak akan tersembunyi pertemanannya.” [Al-Ibaanah Al-Kubro, no. 420]
➡ Al-Imam Yahya bin Sa’id Al-Qotthon rohimahulloh berkata,
لَمَّا قَدِمَ سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ الْبَصْرَةَ: جَعَلَ يَنْظُرُ إِلَى أَمْرِ الرَّبِيعِ يَعْنِي ابْنَ صُبَيْحٍ , وَقَدْرَهُ عِنْدَ النَّاسِ , سَأَلَ: أَيُّ شَيْءٍ مَذْهَبُهُ؟ قَالُوا: مَا مَذْهَبُهُ إِلَّا السُّنَّةُ قَالَ: مَنْ بِطَانَتُهُ؟ قَالُوا: أَهْلُ الْقَدَرِ قَالَ: هُوَ قَدَرِيٌّ
“Ketika Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri datang ke Bashrah, maka beliau mulai memperhatikan perkara Ar-Robi’ bin Shubaih dan kedudukannya di tengah manusia, beliau pun bertanya: Apa mazhabnya? Mereka berkata: Tidak lain mazhabnya kecuali sunnah. Beliau berkata: Siapa kawan dekatnya? Mereka berkata: Para pengingkar takdir.
Beliau berkata: Maka dia adalah pengikut qodariyyah (golongan pengingkar takdir).” [Al-Ibaanah Al-Kubro, no. 421]
➡ Al-Imam Al-‘Ashma’i rohimahulloh berkata,
سَمِعْتُ بَعْضَ فُقَهَاءِ الْمَدِينَةِ يَقُولُ: إِذَا تَلَاحَمَتْ بِالْقُلُوبِ النِّسْبَةُ تَوَاصَلَتْ بِالْأَبْدَانِ الصُّحْبَةُ. قَالَ الشَّيْخُ: وَبِهَذَا جَاءَتِ السُّنَّةُ
‘Aku pernah mendengar sebagian fuqoha Madinah berkata: “Apabila hati telah dekat dalam penisbatan, maka badan akan menyatu dalam pertemanan.” Ibnu Baththoh rohimahulloh mengomentari: Ucapan ini telah dijelaskan dalam sunnah.” [Al-Ibaanah Al-Kubro, no. 422].
اللهم إني أعوذبك من يوم السوء ومن ليلة السوء ومن ساعة السوء ومن صاحب السوء ومن جار السوء في دارالمقامة ( رواه البخاري في أداب المفرد وحسنه الألباني في صحيح الجامع 1299 ) .
” Yaa Alloh aku berlindung pada-Mu dari hari yang buruk,malam yang buruk,waktu yang buruk, teman yang buruk ,tetangga yang buruk ditempat kami tinggal .”(HR.Bukhori di adabul mufrod syaikh Al al Bani menghasankannya di shahih al jaami’ no.1299).









