Logo Al-Manshur
Artikel
Ponpes Al Manshur Al-Islamy

KEHEBATAN TAUHID

Apa rahasia kehebatan tauhid, sehingga mampu menghapus segala dosa, sebesar apapun ? Seorang Umar bin Khathab Rodhiyallohu'anhu misalnya, tokoh yang sebelum masuk Islam terkenal paling menentang ajaran Islam dan terkenal dengan kekafirannya serta pernah mengubur putrinya hidup-hidup. Namun dengan masuk Islam, mentauhidkan peribadatan hanya kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala saja, maka terhapuslah segala dosa dan kesalahannya yang menggunung. Bahkan menjadi tokoh paling mulia di sisi Alloh sesudah Abu Bakar Rodhiyallohu anhu.

Apalagi jika kesalahan seseorang lebih kecil, tentu akan lebih mudah terhapus dengan tauhid. Bahkan jika kesalahan serta kekufurannya lebih besar dari Umar Radhiyallahu anhu sekalipun,
tetap semua itu akan hapus dan sirna dengan tauhid.

Rosûlulloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, bahwa Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“…وَمَنْ لَقِيَنِي بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطِيْئَةً لاَيُشْرِكُ بِي شَيْئًا، لَقِيْتُهُ بِمِثْلِهَا مَغْفِرَةً” رواه مسلم

Alloh Azza wa Jalla berfirman, “…Dan barangsiapa menjumpai-Ku dengan membawa kesalahan sepenuh bumi dalam keadaan tidak mempersekutukan sesuatupun dengan Aku, maka Aku akan
menjumpainya dengan ampunan yang sepenuh bumi pula“. [HR. Muslim, Fathul Bâri Syarh Shahîh al-Bukhâri]

Dalam Sunan Tirmidzi, dari Anas Rodhiyallohu anhu , beliau mengatakan bahwa Rosûlulloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, Alloh Tabaroka wa Ta’ala berfirman :

يَاابْنَ آدَمَ! إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الْأرْضِ خَطَايَا، ثُمَّ لَقِيْتَنِي لاَتُشْرِكُ بِي شَيْئًا لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً

"Wahai anak Adam! Sesungguhnya jika engkau datang menghadap kepada-Ku dengan membawa kesalahan-kesalahan sepenuh bumi, kemudian engkau datang kepada-Ku dalam keadaan
tidak mempersekutukan sesuatupun dengan Ku, maka Aku akan datang kepadanya dengan membawa ampunah sepenuh bumi pula" (Shahîh Muslim Bisyarhi an-Nawawi)

Syaikh Abdur Rahman bin Hasan Aal asy-Syaikh (wafat th. 1285 H) menyebutkan bahwa al-Hâfizh Ibnu Rajab al-Hanbali rohimahulloh mengatakan, “Barangsiapa yang datang dengan membawa tauhid (kepada Alloh), meskipun memiliki kesalahan sepenuh bumi, niscaya Alloh akan menemuinya dengan membawa ampunan sepenuh bumi pula” (Shahîh Muslim Syarh an-Nawawi)

Maksudnya, hadits di atas menegaskan bahwa siapa yang bertauhid dengan sempurna, maka bisa mendapat ampunan dari dosa-dosanya meskipun dosa-dosa itu memenuhi bumi. Bukan hanya itu, Rosûlulloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam juga menegaskan bahwa orang yang sempurna tauhidnya, tidak akan diadzab oleh Alloh di akhirat.

Dalam hadits Mu’adz bin Jabal Rodhiyallohu'anhu tentang hak dan kewajiban hamba kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala , Rosûlulloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :

حَقُّ اللهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوا اللهَ وَلاَيُشْرِكُوْا بِهِ شَيْئاً، وَحَقُّ الْعِباَدِ عَلَى اللهِ : أَنْ لاَ يُعَذِّبَ مَنْ لاَ يُشْرِكُ بِهِ شَيْئاً. قُلْتُ: ياَرَسُوْلَ اللهِ، أَفَلاَ أُبَشِّر الناَّسَ؟ قَالَ : لاَتُبَشِّرْهُمْ فَيَتَّكِلُوْا. أخرجاه

"Hak Alloh yang menjadi kewajiban para hamba ialah agar mereka beribadah kepada Alloh saja dan tidak mempersekutukan sesuatupun (syirik) dengan Alloh. Sedangkan hak hamba yang akan diperoleh dari Alloh ialah bahwa Alloh tidak akan mengadzab siapapun yang tidak mempersekutukan (syirik) sesuatu dengan Alloh.” Aku (mu’adz) berkata, ‘Wahai Rosûlulloh, tidakkah kabar gembira ini aku sampaikan kepada orang banyak ?’ Beliau menjawab, “Jangan engkau kabarkan kepada mereka,
sebab mereka akan bergantung (dengan mengatakan: yang penting tidak syirik)" [HR. Bukhari dan Muslim}

Hadits ini menunjukkan, orang yang sama sekali tidak berbuat syirik dalam beribadah kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala , ia tidak akan di adzab.

Rosûlulloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda pula :

مَنْ قَالَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، وَأَنَّ عِيْسَى عَبْدُ اللهِ وَابْنُ أَمَتِهِ، وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوْحٌ مِنْهُ، وَأَنَّ الْجَنَّةَ حَقٌّ وَأَنَّ النَّارَ حَقٌّ، أَدْخَلَهُ الله مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةِ شَاءَ(وفى رواية: أَدْخَلَهُ الْجَنَّةَ عَلَى مَا كَانَ مِنَ الْعَمَلِ). أخرجاه

"Siapa yang berkata: Aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Alloh saja, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, juga bersaksi bahwa Isa adalah hamba Alloh dan anak hamba (perempuan) Alloh, ia adalah manusia yang dicipta dengan kalimat-Nya, lalu dimasukkan ke dalam diri Maryam, dan ia adalah ruh yang dicipta oleh Alloh. Juga bersaksi bahwa sorga adalah benar adanya, dan nerakapun benar adanya, maka Alloh pasti akan memasukannya ke dalam sorga, melalui pintu mana saja yang dia kehendaki dari pintu-pintunya yang delapan. (Dalam riwayat lain: maka Alloh pasti akan memasukannya ke dalam sorga, sesuai dengan amal perbuatan yang dilakukannya). [HR. Bukhari dan Muslim]

Masih banyak nash lain yang menceritakan kehebatan tauhid. Apa Rahasianya?
Di sini perlu dikaji beberapa hal di antaranya:

 

PENGERTIAN TAUHID

Tauhid ialah meng-Esakan Alloh Azza wa Jalla dengan hanya memberikan peribadatan kepada-Nya saja. Artinya, agar orang beribadah (menyembah) hanya kepada Alloh Azza wa Jalla saja
serta tidak mempersekutukan sesuatupun dengan-Nya (tidak syirik kepada-Nya). Dia beribadah hanya kepada Alloh Azza wa Jalla dengan mencurahkan kecintaan, pengagungan, harapan dan rasa cemas.

Syaikh Muhammad bin Shâlih al-Utsaimîn rohimahulloh menerangkan bahwa kata tauhid merupakan mashdar dari wahhada, yuwahhidu, artinya menjadikan sesuatu menjadi satu-satunya.
Dan ini tidak akan terjadi kecuali dengan menggabungkan antara nafi (peniadaan) dan itsbât (penetapan). Meniadakan (peribadatan) dari selain yang di Esakan, serta menetapkan (peribadatan) hanya pada yang di Esakan.

Sementara Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahulloh mengatakan, “Tauhid yang di bawa Rosul Alloh sebagai ajarannya tidak lain berisi penetapan bahwa sifat Uluhiyah (berhak disembah)
hanyalah milik Alloh Azza wa Jalla saja. Yaitu, ikrar bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Alloh Azza wa Jalla , tidak ada yang boleh diibadahi kecuali Dia, tidak diserahkan sikap tawakal kecuali hanya kepada-Nya, tidak ada kecintaan kecuali karena-Nya, tidak dilakukan permusuhan kecuali karena-Nya dan tidak dilakukan amal perbuatan kecuali dalam rangka ridha-Nya. Dan itu semua mencakup penetapan nama-nama serta sifat-sifat-Nya sesuai dengan apa yang telah Dia tetapkannya sendiri bagi diriNya”.

Selanjutnya beliau rohimahulloh mengatakan, “Bukanlah tauhid yang dimaksud sekedar Tauhid Rububiyah. Yaitu meyakini bahwa Alloh adalah pencipta alam semesta satu-satunya”. (Ibid. hlm. 187)

Itulah hakikat tauhid yang menjadi intisari dakwah serta ajaran setiap Rosul Alloh, yaitu yang berisi dua hal pokok: Pertama, penolakan terhadap setiap sesembahan selain Alloh, dan kedua,
penetapan bahwa sesembahan yang benar hanyalah Alloh Azza wa Jalla saja.

Alloh Azza wa Jalla berfirman :

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

"Sesungguhnya Kami telah mengutus seorang Rosul pada setiap umat untuk menyeru kepada umat masing-masing, “Beribadahlah kalian kepada Alloh saja, dan jauhilah thaghut."" [an-Nahl/16:36]

Dan banyak firman Alloh yang senada dengan ayat ini.

 

TUJUAN DICIPTAKANNYA MANUSIA

Adalah sangat naif dan dangkal jika orang berprasangka bahwa hidup di dunia ini hanyalah untuk tujuan dunia, untuk membangun dunia dengan segala gebyar serta teknologinya, dan untuk melakukan kebaikan-kebaikan duniawi hanya demi kebaikan serta kesejahteraan dunia.

Orang hidup pasti akan mati dan meninggalkan dunia fana ini menuju kehidupan lain. Dan pasti akan ada pertanggung jawaban dalam kehidupan lain itu. Karenanya Alloh Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan, bahwa hidup di dunia ini memiliki tujuan agung yang bukan sekedar hidup, kemudian mati, lalu selesai. Tujuan agung itu adalah peribadatan kepada Alloh Azza wa Jalla . Firman-Nya :

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

"Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali supaya mereka beribadah kepadaKu."

[adz-Dzariyât/51:56]

Ibadah yang dimaksud adalah ibadah murni yang tidak terkotori dengan peribadatan kepada selain Alloh Azza wa Jalla . Jika seseorang dalam peribadatannya melakukan perbuatan syirik,
mempersekutukan makhluk dengan Alloh, maka pasti Alloh Subhanahu wa Ta’ala akan murka dan tidak akan ridha.[al-ushul ats-tsalasah hlm.33]

Di antara dalilnya ialah, firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala :

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا

"Sesungguhnya Alloh tidak akan mengampuni dosa syirik (mempersukutukan) kepadaNya, dan Dia mengampuni dosa yang selain syirik itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa yang mempersekutukan Alloh, maka sungguh, dia telah mengadakan dosa yang sangat besar. [an-Nisâ’/4:48]

Juga firman-Nya :

إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

"Sesungguhnya (dosa) syirik (mempersekutukan Alloh), benar-benar merupakan kezaliman yang sangat besar." [Luqmân/31:13]

Demikian pula firman-Nya :

وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا

"Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah untuk Alloh, maka janganlah kamu memohon di dalamnya kepada siapapun, di samping kepada Alloh." [al-Jin/72:18]

Jadi, bagaimana mungkin Alloh Azza wa Jalla tidak murka jika Dia Yang Maha Perkasa dan Sempurna disejajarkan dengan makhluk-Nya yang serba lemah dan kurang. Karena itulah, larangan terbesar dalam Islam adalah syirik.
Alloh Azza wa Jalla berfirman :

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا

"Dan beribadahlah kepada Alloh dan janganlah mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun" [An-Nisâ/4:36]

Demikian juga maksud diturunkannya kitab-kitab Alloh Azza wa Jalla serta diutusnya para rasul ialah agar para manusia beribadah hanya kepada Alloh Azza wa Jalla saja. Dalilnya sangat banyak,
di antaranya firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala :

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

"Dan kami tidak mengutus seorang rosulpun sebelum kamu melainkan kami wahyukan kepadanya, “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”. [Al-Anbiya’/21:25]

Nah, agar orang tidak kecewa kelak dalam kehidupan di alam lain, ia harus tunduk pada aturan yang ditetapkan oleh Penciptanya. Dan Penciptanya ini telah menunjuk utusan kepercayaan-Nya untuk menyampaikan risalah-Nya. Ia adalah ROsûlullOh, utusan-Nya.

 

BAGAIMANA CARA BERTAUHID?
Adalah jelas bahwa Islam dibangun berdasarkan pondasi tauhid. Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

قُلْ إِنَّمَا يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ فَهَلْ أَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

"Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya apa yang diwahyukan kepadaku ialah bahwasanya sesembahan kamu adalah sesembahan yang Esa, maka apakah kamu telah Islam (berserah diri) kepada-Nya”? [al-Anbiyâ’/21:108]

Maka agar keislaman seseorang itu benar dan diterima di sisi Alloh Azza wa Jalla , ia harus bertauhid dengan benar, yaitu hanya memberikan peribadatan kepada Alloh Azza wa Jalla dengan ikhlas dan tidak memberikan sedikitpun dari macam-macam ibadah kepada selain Alloh Subhanahu wa Ta’ala . Tidak berdoa dan tidak memohon kepada selain Alloh Subhanahu wa Ta’ala , hal-hal yang hanya menjadi kekuasaan Alloh untuk memberinya; tidak kepada malaikat, tidak kepada Nabi, tidak kepada wali, tidak kepada ‘orang pintar’, tidak kepada pohon, batu, matahari, bulan, kuburan dan lain sebagainya.

Jadi dalam bertauhid, orang harus menolak dan menyingkiri segala yang disembah selain Alloh Azza wa Jalla , dan hanya mengakui, menetapkan serta menjalankan bahwa peribadatan hanya merupakan hak Alloh saja, Pencipta alam semesta.Bertauhid bukan sekedar mengikrarkan bahwa Alloh adalah satu-satunya Pencipta, Pemberi rizki, Pengatur serta Pemilik alam semesta. Sebab tauhid semacam ini telah diikrarkan pula oleh kaum musyrikin Arab pada zaman Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam. Tetapi bertauhid harus direalisasikan dengan memberikan peribadatan hanya kepada Alloh Azza wa Jalla , permohonan, doa dan kegiatan-kegiatan lain yang semakna, hanya kepada Alloh saja.

Dengan demikian, agar tauhid berfungsi menghapus segala dosa dan menghalangi masuk neraka, maka seseorang harus memurnikan tauhidnya kepada Alloh Azza wa Jalla serta berupaya menyempurnakannya. Ia harus memenuhi syarat-syarat tauhid, baik dengan hati, lidah maupun anggota badannya. Atau –minimal- dengan hati dan lidahnya pada saat meninggal dunia.

Intinya, menyerahkan peribadatan, kehidupan dan kematian hanya kepada Alloh, meninggalkan segala bentuk kemusyrikan serta segala pintu yang dapat menjerumuskan ke dalam kemusyrikan, sebagaimana telah diterangkan dalam ayat-ayat atau hadits-hadits di atas.

Demikian secara sangat ringkas gambaran tentang kehebatan tauhid yang memiliki daya hapus luar biasa terhadap dosa-dosa. Karena itu mengapa orang tidak tertarik memanfaatkan kesempatan ini ? yaitu dengan bertaubat, kembali bertauhid serta memurnikan tauhidnya kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala ? Dan mengapa tidak takut kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala ?Perlu disadari oleh setiap insan, bahwa kelak masing-masing akan datang sendiri dan mempertanggung jawabkan dirinya sendiri dihadapan Alloh yang Maha adil keputusan hukumNya.

وَكُلُّهُمْ آتِيهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَرْدًا

"Dan setiap orang dari mereka akan datang kepada Alloh sendiri-sendiri pada hari Kiamat." [Maryam/19:95]

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 07/Tahun XV/1432H/2011. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183]

Kategori: 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Informasi Terkini

Pipanisasi 6 KM Magelang

Selengkapnya
Artikel Terbaru
Agenda
Kolom Guru
Rubrik Siswa
+62 858-5393-1561
info@almanshuralislamy.sch.id
KEHEBATAN TAUHID
envelopephone-handsetlocationlaptop-phonebubbleclockmenuchevron-down linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram